5 Tips Praktis Merawat Batik

Posted by Zaim Buzz

Keindahan corak dan warna batik tentu mempesona tiap orang yang memandangnya. Namun bagaimana jika keindahan itu tak lagi tampak karena kain batik Anda perlahan rusak dan pudar seiring waktu. Karena itu tentunya Anda ingin kain batik Anda tetap terlihat cantik meskipun sudah bertahun-tahun lamanya bukan? Yuk ikuti tips perawatannya..

Merawat batik tidak sama seperti merawat kain dan baju lainnya. Dibutuhkan sedikit keterampilan dan kesabaran agar warna dan corak cantiknya tidak cepat pudar dan terlihat usang.

  1. Cara terbaik untuk merawat kain batik adalah dengan mencucinya menggunakan cairan khusus yang banyak dijual di pasaran (lerak) atau bisa juga dengan menggunakan shampo. Larutkan shampo dalam air secukupnya hingga betul-betul merata agar terhindar dari pudarnya warna pada kain batik.
  2. Jangan pernah mencuci kain batik di dalam mesin cuci. Selain dapat merusak kain itu sendiri, penggunaan deterjen pada kain batik dapat melunturkan warna dan corak yang ada. Apabila terdapat noda yang membandel dan sulit dihilangkan dengan lerak maupun shampo atau sabun cuci biasa, cobalah hilangkan noda tersebut dengan kulit jeruk tetapi jangan pada seluruh permukaan kain, melainkan hanya pada bagian yang terkena noda saja.
  3. Setelah dicuci, biarkan kain batik mengering secara alami di tempat yang cukup teduh, jangan langsung dijemur dibawah terik matahari. Memeras kain batik dapat merusak warna dan motif kain.
  4. Semprotkan pewangi pada kain batik Anda, jangan semprot kain secara langsung melainkan tutupi terlebih dahulu kain batik dengan koran kemudian semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain saat akan disetrika.
  5. Untuk menghindari ngengat dan serangga lainnya di dalam lemari pakaian yang bisa merusak kain batik Anda, dapat diatasi dengan memasukan merica ke dalam tisu. Bau merica yang kurang sedap dapat mengusir ngengat sehingga kain batik Anda terjamin keamanannya!

Nah.., cukup mudah 'kan untuk merawat kain batik Anda agar tetap cantik. Selamat mencoba!

Novita Batik

Indonesia Menang Festival Budaya Internasional

Posted by Zaim Buzz

Indonesia meraih penghargaan sebagai juara umum Festival Kebudayaan International 2009 di Nassau, Bahama, ibukota Kepulauan Karibia, Benua Amerika Sabtu. Dalam pameran yang berlangsung selama dua hari di ibukota kepulauan Karibia itu, Indonesia berpartisipasi dengan mengusung kebudayaan batik sebagai tema utama pameran. Bertempat di paviliun khusus, Indonesia memamerkan berbagai jenis kain batik koleksi lembaga riset batik, Batik House Indonesia dan perancang batik asal Sleman, Yogyakarta, Bambang sumardiyono, yang pada festival itu juga memamerkan beberapa koleksi busana batik melalui peragaan yang dibawakan oleh para model Bahama.
Di paviliun itu juga, Indonesia menggelar demonstrasi pembuatan batik dan memberi kesempatan kepada para pengunjung festival untuk membatik. Ketua Panitia Festival Kebudayaan International, Janet Johnson, menyebutkan bahwa keikutsertaan Indonesia dengan menampilkan batik telah mengangkat kembali pamor festival tahunan itu.
Batik baru-baru ini pada 2 Oktober 2009 ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia. Penjurian kontes anjungan terbaik dalam Festival Kebudayaan International ke-14 dilakukan oleh tokoh-tokoh independen Bahama dari berbagai kalangan untuk memilih stand terbaik diantara 25 negara peserta. Para juri memilih anjungan terbaik pertama dan kedua dari beberapa kelompok, yaitu Eropa, Amerika utara dan selatan, Afrika, Asia dan Karibia. Dari kelompok Asia, Filipina dan Myanmar meraih penghargaan sebagai juara pertama dan kedua. Indonesia sendiri tampil sebagai juara umum yang pengumumannya dilakukan di panggung utama festival.
Penghargaan sebagai juara umum berupa "The Best of Show of the 14th Annual International Cultural Festival 2009" bagi Indonesia diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Bahama, Brent Symontte kepada Duta Besar RI untuk Kuba Banua Radja Manik.

Sejarah Batik

Posted by Zaim Buzz


Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

Jaman MajapahitBatik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

  • Sejarah Batik Pekalongan

Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.


  • Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini

BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.

Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.

Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.

Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.

Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.
Welcome to PESONA BATIK WEB....

Posted by Zaim Buzz

Puisi "Kartini Tua Batik Pekalongan"

Posted by Zaim Buzz


Dalam renungan hati yang tak henti
Sang surya tiba hingga terbenam
Engkau duduk dengan selendang kain putih
Dengan piawai tangan melukiskan
Hanya demi hari esok dapat makan

Sabar...
Semangat...
Tak putus asa...
Hanya yang ada dipikiran
Selendang kain penuh goresan
Penuh makna dalam kehidupan


Masa tua...
Ibarat pohon yang telah berhenti berbuah
Tak ada guna, tak ada nilai
Para subjeknya adalah mereka yang punya batasan psiko-motorik
Sehingga tidak seproduktif masa sebelumnya

Namun engkau selalu optimi !!
Karena engkau tetaplah Kartini Indonesia

Engkau memetik semangat yang menyelesaikan mahakarya besar dalam usia


KOTA PEKALONGAN





BATIK KITA
BATIK INDONESIA
BATIK DUNIA